Samudra Al Fatihah merupakan sebuah buku yang cukup menarik untuk dibaca karena didalamnya
menguraikan kandungan isi dari Surah Al Fatihah secara dalam dengan
disertai surah-surah Al Quran dan hadist-hadist (cerita Nabi Muhammad
s.a.w) yang menguatkan. Dengan membaca buku ini kita dibawa
untuk menjelajahi samudra Al Fatihah yang maha dalam dan maha luas.
Dengan harapan dapat menambah iman dan khusyu’ kita terhadap semua
persoalan yang dikandungnya. Mengapa Surah Al Fatihah? Kita mengetahui
bahwa belum sah sholat seseorang jika belum membaca surah Al Fatihah.
Tentunya hal ini menyiratkan betapa agung dan hebatnya isi dari surah al
Fatihah. Diterangkan dalam buku ini bahwa Al Fatihah merupakan
kesimpulan dari seluruh isi Al Quran atau kesimpulan dari seluruh
kitab-kitab suci atau kesimpulan dari ajaran semua agama yang dibawa
oleh para Nabi dan Rasul sebelum Nabi Muhammad saw. Sebab itu pula,
Surah ini dinamakan Al Fatihah (pembuka), atau ummul kitab (Induk
Kitab).
Keistimewaan surah Al Fatihah Paling Besar (A’zham)
”Seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah saw.: Ya Rasulullah, Engkau
mengatakan akan mengajarkan kepadaku sebesar-besarnya surah dalam Al
Quran?”. Berkata Rasulullah saw: ya, Alhamdulillahi Rabbil Aalamin (dan
seterusnya), 7 ayat yang berulang-ulang, dan itulah al Quran al Azhiim
yang telah disampaikan kepadaku.” (dirawayatkan leh Al Bukhari, Abu
Dawud, an Nasa’i, Ibnu Majah dan al Waqidi dari berbagai sumber).
Tak ada samanya dalam Taurat, Injil, Zabur dan Al Quran.
Diriwayatkan dari Ali Bin Abu Talib r.a bahwa Rasulullah s.a.w berkata :
”Siapa yang membaca Faithatul-Kitab (al Fatihah), maka seakan-akan dia
telah membaca Taurat, Injil, Zabur dan al Furqan (Al Quran)”.
Hanya kepada Muhammad s.a.w diturunkan
Diriwayatkan oleh Muslim dan an Nasa’i, dari ibnu Abbas r.a. katanya
”Jibril berkata kepada Muhammad s.a.w, pada saat beliau mendengar suatu
bunyi dari atas: ”Bahwa telah terbuka sebuah pintu di langit dan tak
pernah pintu itu terbuka sebelum ini, dari pintu itu turunlah seorang
Malaikat dan langsung menuju kepada Rasulullah dan berkata”
Bergembiralah engkau Muhammad mendapat 2 cahaya yang tak pernah kedua
cahaya itu diberikan kepada Nabi yang manapun sebelum engkau, kedua
cahaya itu adalah Fatihatul Kitab dan beberapa ayat di akhir Surah Al
Baqarah, setiap huruf engkau baca dari keduanya pasti engkau
mendapatkannya”.
Langsung mendapat jawaban dari Allah swt.
”Siapa yang membaca Surah Al Fatihah, setiap ayat yang dibaca itu
langsung dijawab oleh Allah” (diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah
r.a.).
Aman dari Segala Bahaya
Diriwayatkan oleh al Buzar dari Anas r.a. : Berkata Rasulullah s.a.w:
”Bila engkau baca al Fatihah dan Qul Huwwallahu Ahad maka amanlah engkau
dari segala sesuatu, kecuali dari maut”.
Langsung dari Arasy
Dirawayatkan oleh al Hakim di dalam al Mustadrak dari Ma’qal bin Yasaar
r.a.: Telah berkata Rasulullah s.a.w: ”Amalkanlah segala apa yang
tersebut di dalam Al Quran, halalkanlah apa yang dihalalkannya,
haramkanlah apa yang diharamkannya, dan patuhilah ia, jangan sekali-kali
engkau ingkari dan ragukan, sesungguhnya al Quran itu Pemberi
Syafaat, sesuatu yang tak pandai bicara tetapi membawa kebenaran dan
kepadaku diberikan Allah surah Al Baqarah dari Zikir Pertama, dan
diberikan kepadaku Surah Al Fatihah langsung dari Arasy”,arti kata Arasy menurut istilah bahasa adalah singgasana raja. (yakni Allah Yang Maha Penyayang).
Sebagai obat
”Hai Manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu,
dan penawar obat bagi penyakit yang ada di dalam dada, dan sebagai
petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Yunus: 57).” Dan kami turunkan dari Al Quran sesuatu yang jadi obat dan rahmat bagi
orang-orang yang beriman dan bagi orang-orang yang zhalim tetap merugi”
(Al Isra: 82) ”Katakanlah al Quran itu sebagai petunjuk dan penawar (obat) bagi orang-orang yang beriman (Fusshilat: 44).
Keutamaan Basmalah (Bismillaahir Rahmaanir Rahiim)
Didalamnya terdapat 3 Nama yang terbesar dari Nama-Nama Allah yaitu:
Allah, Ar Rahmaan dan Ar Rahiim, karena itu Rasulullah s.a.w menamakan al Ismul A’zham yaitu Nama Teragung dari Allah s.w.t.
Dalam buku ini banyak sekali riwayat Nabi yang membahas keutamaan membaca Basmalah, diataranya:
Diriwayatkan oleh Imam Abdur Rahman bin Abu Hatim, berasal dari Ibnu
Abbas, bahwa Usman bin Affan bertanya kepada Rasullullah tentang kalimah
basmalah, lalu Rasulullah s.a.w menjawab:”Ia adalah salah satu dari
nama-nama Allah. Begitu dekatnya Bismillah ini dengan Nama Allah yang
Teragung seperti dekatnya biji mata hitam dengan biji mata yang putih.”
Diriwayatkan oleh Ibnu Marduwaih yang berasal dari Abu Buraidah bahwa
Rasulullah s.a.w bersabda: ”Diturunkan kepadaku satu ayat yang tak
pernah diturunkan kepada salah seorang Nabi, selain Nabi Sulaiman bin
Dawud dan saya sendiri, yaitu ayat Bismillahir Rahmaanir Rahiim”
Diriwayatkan oleh Ibnu Hibbaan, sabda Rasulullah s.a.w:
”Setiap pekerjaan (urusan) yang penting yang tidak dimulai dengan
menyebut: Bismillaahir Rahmaanir-Rahiim, maka pekerjaan (urusan) itu
akan pincang”.
Tafsir Alhamdulillahir Rabbil Al Amiin (ayat ke 1 dalam surah Al Fatihah)
Al’aalamiin (Alam Semesta)
Sehebat apapun ilmu pengetahuan yang telah dicapai manusia saat ini,
namun masih sedikit sekali dibandingkan dengan besar dan luasnya alam
semesta raya.
Firman Allah : ”Dan tidaklah diberikan pengetahuan kepada kamu kecuali sedikit.” (al Isra: 85).
”Katakanlah (hai Muhammad), bahwa sesungguhnya pengetahuan (yang
sempurna) hanya pada Allah, sedang aku ini hanya pemberi peringatan yang
nyata.” (al Mulk:26)
Begitu sedikit pengetahuan manusia tentang alam semesta ini, lebih
sedikit lagi pengetahuan manusia tentang akhira. Nabi Muhammad s.a.w.
berkata kepada salah seorang sahabat:”Bila engkau masukkan sebelah
tanganmu ke dalam laut, lalu engkau angkatlah tangan itu kembali, maka
ari yang melekat pada tangan itulah pengetahuan dunia, dan air laut yang
tertinggal di samudera ialah pengetahuan tentang akhirat”. Didalam buku
ini banyak diceritakan bagaimana indah dan luasnya alam semesta alam
raya ini, terlebih keindahan alam di malam yang terang dan cerah.
Dijelaskan dalam surat Al Quran mengenai hal ini, seperti Al Mulk:1-5,
al Waqi’ah:75-76, al Mu’min:57 dan masih banyak lagi. Kekaguman kita
terhadap kehebatan dan kebesaran alam semesta, dan kemudian akan lebih
kagum lagi terhadap kehebatan dan kebesaran Allah yang menciptakannya.
Dalam surat al Kahfi: 109: ”Sekiranya laut dijadikan tinta untuk
menuliskan kalimah-kalimah Allah, sungguh akan keringlah lautan sebelum
habis kalimah-kalimah Allah, sekalipun ditambah sebanyak itu lagi.”
Rabbil’Aalamiin
Firman Allah: ”Sesungguhnya di dalam pergiliran malam dan siang, dan
kapal-kapal yang berlayar di atas samudera membawa apa-apa yang berguna
bagi manusia dan apa-apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air,
sehingga dengan air itu menjadi hiduplah bumi yang mulanya mati, lalu
hidup berkeliaran di atasnya segala macam binatang, berhembusnya angin
dan awan antara langit dan bumi, semua itu adalah menjadi ayat-ayat atau
tanda-tanda bagi orang yang berakal (berfikir) .” (Al Baqarah:164).
Jadi seluruh kejadian dibumi ini, disamping diambil manfaatnya untuk
hidup, dapat pula dijadikan bukti dan tanda tentang wujud kekuasaan dan
kemurahan Allah, untuk pendorong agar kita selamanya hidup di dalam
mengingat Allah, mensyukuri nikmat Allah dan mentaati segala perintah
Allah.
Alhamdulillah
Ucapan atau kalimah yang menunjukkan rasa syukur terimakasih, kasih
sayang, cinta, hormat, khidmat, lega dan bangga terhadap Allah. . Dari
segala macam bentuk susunan kalimah yang berisi pujaan dan pujian yang
dihadapkan manusia kepada Allah, Allah memilih satu yang paling Allah
senangi, nyaitu Alhamdulillahi Rabbil ’aalamiin.
Sabda Rasulullah s.a.w:
” Zikir paling utama ialah kalimah laa Ilaaha Illallaah, dan doa paling utama ialah kalimah Alhamdulillaahi”
Kalimah hamdalah berarti berdoa. Syaratnya ialah agar hati setiap orang
yang menyebutnya harus ingat dan yakin bahwa Allah akan mengabulkan dan
mendengarkannya.
Diriwayatkan oleh Imam al Qurthuby di dalam tafsiran dan di dalam kitab
Nawadirul Ushul, dari Anas r.a. bahwa Rasulullah s.a.w. pernah bersabda:
”Sekiranya dunia dan seluruh harta kekayaan yang berada di atasnya
diserahkan ke tangan seorang dari umatku, lalu orang itu berkata:
”Alhamdulillah”, sungguh ucapan ”Alhamdulillah” itu lebih berharga dari
seluruh harta kekayaan itu.”
Tafsir ar Rahmaan ar Rahiim (ayat ke 2 dalam surah Al Fatihah)
Rahim atau Rahmat mempunyai arti yang sama yaitu: pemberi Rahmat atau Maha Pengasih, Maha Penyayang.
Rahmat Alam
Diterangkan oleh banyak surah-surah dalam Al Quran, beberapanya antara lain:
Firman Allah:”Dan kami jadikan dari tiap-tiap sesuatu yang hidup, apakah kamu tetap tidak mau beriman?” (al Anbiya:30)
”Engkau lihat bumi itu kering tetapi apabila Kami turunkan atasnya air,
lalu ia menjadi mekar dan segar (lunak dan subur), dan dapat menumbuhkan
bermacam-macam tumbuh-tumbuhan yang menarik hati.”(al Haj:5). Segala sesuatu tentang alam yang luas ini, kita akan kagum memikirkan
kebesaran dan kebijaksanaan Allah yang menciptakan dan mengaturnya.
(Dalam surah al A’raf:53, al Mu’minun:14)
Rahmat Kesehatan Jasmani dan Rohani
Selain nikmat alam semesta, rahmat Allah yang sangat bernilai adalah
kesehatan jasmani dan rohani. Sabda Rasulullah s.a.w:”Siapa yang sehat
badannya, senang hatinya (sehat rohaninya), dirumahnya ada makanan buat
sehari, maka seakan-akan seluruh dunia ini berada dalam
genggamannya.”Mintalah kepada Allah akan keyakinan (agama yang benar)
dan kesehatan, karena sesungungnya tidak ada sesuatu sesudah keyakinan
yang lebih berharga daripada kesehatan”.
Rahmat Islam dan Iman
Rahmat terbesar yang tidak dapat dinilai dengan apapun. Sungguh
beruntung sekali orang yang telah menerima dan merasa memiliki Islam dan
Iman itu di dadanya.
Sabda Rasulullah s.a.w: ”Beruntung orang yang telah meilhat akan Aku dan
beriman dengan Aku, dan beruntung, beruntung, beruntung orang yang
tidak melihat akan Aku tetapi beriman kepada Aku.”
Dijelaskan pula dalam surah al Baqarah 132-136 dan 140, tentang hal ini.
Rahmat Akhirat
Seluruh rahmat dan nikmat yang dituangkan Allah di permukaan bumi ini
adalah sebahagian kecil dari rahmat Allah yang amat besar.”
Firman Allah:”Katakanlah (hai Muhammad): Harta benda (kesenangan) dunia
ini sedikit dan akhirat itu lebih baik bagi orang yang taqwa, dimana
mereka tidak akan dianiaya (dirugikan) sekalipun sedikit.” (an Nisa:77).
Sabda Rasulullah s.a.w: ”Sejelek-jelek kedudukan manusia pada sisi Allah
di hari kiamat ialah seorang yang mengorbankan akhiratnya untuk dunia
lainnya”.
Ar Rahmaan berarti Allah Pemegang Kunci Rahmat Dunia , Ar Rahiim berarti
Allah Pemegang Kunci Rahmat Akhirat. Menurut Hadis, Rasulullah s.a.w
apabila berdoa paling sering menyeru dengan seruan: Ya Rahmaan Ya
Rahiim.
Tafsir Maaliki Yawmiddin (ayat ke 3 dalam surah Al Fatihah) Yang memiliki Hari Pembalasan”.
Dalam banyak ayat Al Quran dan Hadis, Allah dan RasulNya menegaskan
bahwa kehidupan di dunia ini adalah kehidupan yang amat kecil artinya,
amat terbatas waktunya. Penghidupan di dunia ini adalah ibarat setetes
air, sedang penghidupan Akhirat adalah ibarat samudra luas.
Dalam buku Samudra Al Fatihah (Bey Arifin), bab ini menjelaskan bahwa
hal yang paling menakjubkan pada manusia, bukanlah jasmani atau tubuhnya
tetapi rohaninya. Namun segala sesuatu yang gaib yang diciptakan oleh
Allah hanya Allah sajalah yang mengetahuinya. ”Mereka bertanya kepada
engkau tentang Roh. Katakanlah: Roh itu adalah rahasia Tuhanku. Dan
tidaklah diberikan ilmu pengetahuan kepadamu kecuali sedikit saja.” (al
Isra:85) Tetapi kita sebagai orang yang ber Iman, harus percaya bahwa
ada kehidupan sesudah mati, kehidupan kekal dan abadi roh manusia di
alam barzakh dan alam akhirat.
Pesan yang disampaikan adalah: Hindarkan dirimu dari sesal kemudian yang tak berguna.
Dijelaskan dalam Kitab suci al Quran dan Hadis Nabi Muhammad s.a.w.
Diantaranya: Surah as Sajdah 11-12 dan Surah az Zumar 58-59. Untuk
menghindarkan diri dari sesalan yang berkepanjangan, dalam surah az
Zumar 54-55 dijelaskan: Dan kembalilah kepada Tuhanmu dan berserah
dirilah kepada Nya sebelum datang kepadamu azab itu, kemudian kamu tidak
dapat ditolong lagi (54). Turutlah sebaik-baiknya (agama) yang
diturunkan kepadamu dari Tuhan kamu, sebelum datang kepadamu azab dengan
tiba-tiba, sedangkan kamu tidak sadar (55).
Dalam bab ini (Buku Samudra Al Fatihah oleh Bey Arifin), Penulis juga
menjelaskan secara detail, tentang tahapan-tahapan kehidupan setelah
mati disertai kajian yang tertuang dalam Al Quran dan Hadis. Dan dalam
kesimpulan bab ini, diuraikan tentang surah Al Waqi’ah tentang kejadian
besar yaitu Kejadian Kiamat. Diterangkan pula dalam hadis, bahwa bagi
siapa yang sering membaca surah ini akan mengakibatkan ketenangan hati
dan jiwa menghadapi segala kemungkinan dalam hidup dan mati.
Tafsir Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’iin (ayat ke 4 dalam surah Al Fatihah)
Engkaulah yang kami sembah dan Engkaulah yang kami minta pertolongan
Diterangkan dalam buku ini bahwa Al Fatihah terdiri dari 7 ayat. Ayat
ini terletak persis ditengah. Tiga ayat sebelumnya untuk Allah,
sedangkan tiga ayat sesudahnya untuk manusia (Hamba Allah).
Iyyaka Na’budu artinya: Engkaulah yang kami sembah. Hanya untuk engkau
sajalah kami beribadah. Tidak ada selain Engkau yang kami sembah, yang
kami puja.
Iyyaka Nasta’iin artinya: Engkaulah yang kami mintai pertolongan. Hanya
kepada Engkau sajalah kami minta bantuan, perlindungan, mohon rejeki,
mohon keselamatan dll.
Ayat ini mengandung 2 persoalan pokok yaitu Ibadah dan Do’a.
Ibadah terhimpun dalam 2 hal yaitu Cinta (hubb) dan Tunduk (Khudhu). Dan
cinta serta tunduk ditujukan hanya kepada satu zat yaitu Allah semata.
Ini yang dinamakan Tauhid.
” Bila kamu tanyakan kepada mereka: Siapakah yang menciptakan mereka? Mereka akan menjawab: Allah” (ad Dukhan: 87)
Berdoa (Isti’anah) terhimpun dalam 2 hal yaitu: berserah diri (tsiqah)
dan menggantungkan harapan (i’timad). Dan 2 hal ini tercakup dalam satu
kata yaitu Tawakal. Tawakal inilah yang menjadi pengertian yang
sedalam-dalamnya dari ayat ”iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’iin”.
Dijelaskan tentang hal ini dalam Al Quran surah: Hud:88, 123 dan al
Mumtahanah:4 dan 8-9
Tafsir Ihdinash-shiraathal-mustaqiim (ayat ke 5 dalam surat Al Fatihah)
Tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus.
Shiraathal-Mustaqiim artinya jalan yang lurus, jalan yang benar, jalan
yang membawa kepada kebahagiaan dan keberuntungan, di dalam hidup di
dunia dan lebih-lebih di dalam hidup di akhirat nanti. Rasulullah s.a.w
menasehatkan kepada ummat beliau, agar sebanyak-banyaknya minta
pertolongan atau berdoa kepada Allah. Mintalah kepada Allah segala
perkara dari yang besar hingga yang sekecil-kecilnya. Diantara
berjuta-juta perkara besar dan kecil yang kita butuhkan maka Shiraathal
mustaqiim adalah yang paling penting, paling besar dan paling mahal
harganya dalam hidup manusia di dunia ini. Allah berfirman dalam surat
terakhir an Naba:”Kami memperingatkan kamu akan kesengsaraan yang sudah
dekat waktunya, di hari manusia akan melihat segala kesalahan yang
pernah dilakukan dan orang kafir akan mengeluh: Alangkah baiknya kalau
aku dahulunya menjadi tanah saja.” Sebab itu hal yang pertama kita mohon
dan minta kepada Allah adalah agar kita ditunjuki jalan yang lurus,
benar, kepercayaan dan agama yang benar.
Tafsir Shiraathal-ladzina An’amta ’Alaihim (ayat ke 6 dalam surat Al Fatihah)
Yaitu jalan orang-orang yang engkau beri nikmat atas mereka
Ditegaskan dalam ayat ini, yang dimaksud Allah jalan yang lurus adalah
jalan yang ditempuh, dijalani atau digariskan oleh orang-orang yang
telah mendapat nikmat dari Allah.
Orang-orang yang mendapat nikmat yang dimaksud adalah Nabi-Nabi dan
Rasul-Rasul, atau orang yang bukan Nabi dan Rasul, tetapi mempunyai
kepercayaan yang sama dengan pendapat atau kepercayaan Nabi dan Rasul.
Firman Allah:”Dan sesungguhnya Kami sudah mengutus pada tiap-tiap ummat
seorang Rasul (yang memerintahkan/mengajarkan): Hendaklah kamu sembah
Allah dan jauhi berhala-berhala. Tetapi di antara mereka manusia ada
yang mengikuti petunjuk Allah dan adapula yang tetap atas kesesatan.
Maka berjalanlah kamu di bumi, lihatlah bagaimana kesudahannya
orang-orang yang mendustakan itu.” (an Nahl:36) Manusia yang menerima
dan beriman dengan risalah yang dibawa Nabi-Nabi dan Rasul adalah
manusia yang paling beruntung dan paling baik. Sedangkan mereka yang
tidak percaya adalah manusia yang paling celaka.
Firman Allah:”Sesungguhnya orang-orang Kafir dari ahli Kitab dan
orang-orang musyrik tempatnya di neraka jahannam, mereka kekal di
dalamnya, mereka adalah sejahat-jahatnya makhluk.” (al Bayyinah 6).
”Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan pekerjaan yang
baik, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.” (al Bayyinah 7).
Dalam bab ini, diuraikan tentang perjuangan dan keistimewaan Nabi dan
Rasul sebelum Nabi Muhammad s.a.w dan menegaskan bahwa Nabi Muhammad
sebagai Nabi dan Rasul penutup serta syariat dan ajarannya meliputi
ajaran seluruh Nabi-Nabi dan Rasul. Kitab suci Al Quran adalah
kesimpulan dari seluruh kitab-kitab suci yang diturunkan kepada Nabi dan
Rasul sebelum Nabi Muhammad s.a.w.
Firman Allah:”Tidaklah Muhammad s.a.w itu bapak seorang dari laki-laki
kamu, tetapi ia adalah pesuruh Allah dan penutup segala Nabi.” (al
Ahzab:40).
Sabda Rasulullah s.a.w: ”Beruntung orang yang telah melihat akan Aku dan
beriman dengan Aku, dan beruntung, beruntung, beruntung orang yang
tidak melihat akan Aku tetapi beriman kepada Aku.”
Tafsir Ghairil-maghdhuubi ’Alaihim wa ladh-Dhaalliin (ayat ke 7 dalam surat Al Fatihah)
Bukan mereka yang dimurkai atas mereka dan bukan pula mereka yang sesat
Salah satunya. Surah Al Maidah ayat 60: ” Katakan: Akan kuberitahukan
hal yang lebih buruk dari pembalasannya di sisi Allah? Yaitu orang-orang
yang dikutuk dan dimurkai Allah: diantaranya yang dijadikanNya kera,
babi dan penyembah berhala. Mereka itu amat buruk tempatnya dan lebih
tersesat dari jalan yang lurus".
Dalam dalam buku ini dikatakan, yang dimaksud golongan yang dimurkai
oleh Allah (mahdhuubi ’Aalaihim) menurut adalah siapa saja yang berbuat
keliru, salah dan dusta terhadap Allah dan Kitab-kitab Suci Nya.
Dan golongan sesat (Dhaalliin) adalah siapa saja yang berbuat salah dan keliru dengan tak sadar.
Amin
Menurut sebagian besar ahli tafsir, surah al Fatihah adalah mengandung
do’a. Sebab itu Allah mengajarkan kepada Nabi Muhammad s.a.w setiap
selesai membacanya agar menyebut amin yang berarti perkenankanlah.
Diriwayatkan oleh Imam al Bafhawy dari Abu Hurairah r.a, bahwa
Rasulullah s.a.w mengatakan ”Bila Imam selesai menyebut ayat terakhir
dalam surah al Fatihah, hendaklah kamu (ma’mum) menyebut amin*, maka
sesungguhnya para Malaikat turut menyebut amin. Maka barangsiapa yang
tepat aminnya dengan amin para Malaikat itu, maka Allah akan mengampuni
dosanya yang terdahulu dan yang terbelakang.”
*) Ma’mum diperingatkan tidak mendahului Imam dalam meng amin kan bacaan al Fatihah dalam shalat berjamaah.